Kolaborasi Demi Tingkatkan Ketahanan Siber dalam Negeri

Kolaborasi Demi Tingkatkan Ketahanan Siber dalam Negeri

Oleh Tim Humas LNSW

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari hidup kita. Di tengah pandemi Covid-19, tuntutan transformasi digital bahkan menjadi kebutuhan yang sentral. Namun seiring dengan semakin memasyarakatnya teknologi, serangan siber juga semakin meningkat. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, lebih dari 88 juta serangan siber telah terjadi sejak 1 Januari sampai 12 April 2020. Lebih lanjut sampai September ini, hampir 3 juta serangan siber masuk ke sistem IT Kementerian Keuangan.

Menyadari pentingnya ketahanan siber, Lembaga National Single Window menggelar webinar bertajuk ‘Peningkatan Ketahanan Siber Indonesia dalam Fasilitasi Perdagangan Internasional’ pada Selasa (29/9) ini. Perhatian atas ketahanan siber dalam fasilitas perdagangan internasional menjadi sangat relevan karena dukungan TIK juga merupakan modal utama pertukaran seluruh dokumen yang terkait ekspor, impor, dan dokumen logistik yang dilakukan LNSW. Dalam opening speech yang disampaikannya, Kepala LNSW M.Agus Rofiudin menyampaikan bahwa tidak cukup pada dapat atau tidaknya dokumen elektronik dipertukarkan. Lebih dari itu, diperlukan sistem yang tangguh dan mampu bertahan dari serangan siber.

Hadir menyampaikan keynote speech dalam acara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto berpendapat perhatian atas ketahanan siber perlu menjadi perhatian semua pihak. “Hal ini (tingginya serangan siber) menunjukkan bahwa semua lini harus peduli dan aware dengan keamanan cyber agar digitalisasi dalam mewujudkan good governance dan digitalisasi layanan publik dapat berhasil,” simpulnya.

Pembahasan dalam webinar tersebut diperkaya dengan kehadiran Kepala Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan Herry Siswanto, Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiyawan, dan Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja yang membahas pentingnya kolaborasi semua pihak untuk sama-sama meningkatkan ketahanan siber di Indonesia.

Kepala Pusintek Kemenkeu memaparkan, ada tiga komponen utama yang dibutuhkan untuk mewujudkan pengelolaan TIK yang handal dan aman, yakni teknologi, proses, dan manusia. Namun menurutnya, semua komponen utama itu tidak dapat harmoni tanpa komitmen yang tinggi dari pimpinan.

Di sisi lain, penting disadari bahwa menjaga ekosistem keamanan dan ketahanan siber pada sektor publik merupakan peran dan tanggung jawab bersama. Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja menyoroti bahwa ketika semua jaringan saling terhubung, kelumpuhan satu sistem saja bisa berdampak pada kelumpuhan kemanan nasional. Padahal dalam menggunakan teknologi, tidak sedikit orang yang memanfaatkan teknologi tanpa memahami apa yang ada di balik teknologi tersebut dan turut berkontribusi bagi peningkatan celah keamanan.

Guna mengelola ketahanan siber dengan baik, organisasi perlu kemampuan untuk mengidentifikasi, melindungi, mendeteksi, merespon, dan memulihkan. Lebih lanjut, Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiyawan berharap semua pihak mau berkolaborasi dalam meningkatkan ketahanan siber. Wujud kolaborasi itu dapat berbentuk saling berbagi informasi mengenai serangan siber yang terjadi, karena jika terjadi serangan siber pada satu organisasi/lembaga, tidak menutup kemungkinan serangan yang sama juga ditujukan ke organisasi/lembaga lain.

Langkah ini diperlukan untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam merespon serangan siber. “Serangan siber tidak bisa kita batasi tapi selama kita memiliki kesiapan dan kemampuan untuk melakukan respon, itu yang perlu kita bangun,” pungkas Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN.